visitors

Sabtu, 15 Oktober 2011

Tunggu

Diposting oleh vhee cubby di 06.04 0 komentar
Waktu menunjuk pukul tujuh. Di sudut kafe ketiak saya berpeluh. Namun tak bisa mengeluh. Kecuali pada ponsel yang suaranya tak juga melenguh.
Dua belas jam yang lalu ada yang mengaku akan datang. Yang saya harapkan selalu di kafe itu senyumnya akan mengembang. Ketika melihat saya. Karena berdekatan dengan pujaan hati, katanya. Biasanya kami akan menghabiskan waktu dengan percakapan. Saling bertatapan. Saling bertukar harapan. Harapan untuk bisa merapat dan berdekapan. Di suatu tempat yang jauh dari kegaduhan.
Namun, sebenarnya, hati saya selalu gaduh. Ketika di atas tubuhnya saya mengaduh. Karena setelahnya saya akan mengeluh. Bertanya, ke manakah hubungan ini akan berlabuh?
”Kenapa perlu dipertanyakan, Sayang. Kita sedang berlabuh ke sebuah ketidak-tahuan yang memabukkan.”
”Hah?!”
Saya bukan orang yang mengerti bahasa isyarat. Apalagi kalau itu mengandung makna filosofis berat. Saya cuma tahu karena saya merasa. Bukan karena teori-teori yang tercantum dalam buku-buku yang pemikir sepertinya biasa baca. Saya hanya mau mencinta. Apakah lewat buku-buku bermartabat itu baru cinta bisa dicerna?
Ia selalu menyebutkan nama-nama terkenal yang saya tidak kenal. Ia selalu menyebutkan nama-nama yang bahkan di dalam kepala saya pun tak akan lama mengental. Badiout? Platoy? Badut yang letoi, begitu yang selalu ada di dalam kepala saya tercantol. Bukan karena pemikiran mereka tentang kebenaran yang tidak saya pahami. Tapi lebih karena setiap kali melihat badut yang letoi, saya merasa tak sampai hati.
Saya tidak pernah habis pikir mengapa ada karakter semacam badut di sirkus. Rata-rata mereka sebenarnya berbadan kurus. Bermuka tirus. Hanya kosmetik di mukanya memberangus. Dan buntalan di perutnya yang besar membungkus. Sehingga ia kelihatan lucu dan mungkin bagus. Bagi mata orang-orang tua yang membawa anak-anaknya hanya untuk sejenak melupakan haus. Haus hiburan. Haus kebersamaan. Haus tertawa bersama dalam suasana kekeluargaan. Padahal mata anak-anak itu mungkin bisa melihat apa yang ada di balik mata badut-badut. Mata yang bersungut. Dan mulut yang merengut di balik riasan begitu lebar dan memerah di mulut.
Salah satu mata anak-anak itu, adalah mata saya. Mungkin di antara banyaknya anak-anak itu, hanya saya satu-satunya. Melihat badut yang itu-itu saja di setiap pertunjukan sirkus apa pun dan di mana pun juga. Badut yang letoi. Letoi yang adalah seperti tak bersendi dalam bahasa asli Jakarta. Dan selalu ada garis merah di bawah mata mereka seperti air mata. Jadi saya tidak pernah mengerti mengapa mereka menertawakannya. Bahkan sampai sekarang, ketika usia saya menginjak dewasa.
Menertawakan kesedihan. Menertawakan kebersamaan. Menertawakan keadaan merekakah yang terpaksa datang bersama sanak keluarga hanya atas nama kekeluargaan? Menertawakan diri mereka sendiri. Dan untuk itu ada harga yang harus mereka beli?
”Hahahahahahahahahahahahahahahahahahahahahhahahahahahahaha.”
Akhirnya saya tertawa lepas sebelum ia menjawab reaksi saya. Sangat lepas melebihi tawa saya melihat badut-badut letoi di sirkus. Berikut binatang-binatang yang tidak seharusnya diberangus. Sangat sangat lepas melebihi tawa-tawa dengannya yang sudah hangus.
”Kenapa kamu ketawa, Sayang? Saya kan udah bilang, kalau kamu mau jadikan anak kita, sekarang saatnya. Saya tidak akan bisa kasih anak ke kamu lagi mengingat umur saya sudah lima puluh tahun sekarang. Tapi, saya tidak bisa jamin apakah saya bisa tanggung jawab secara material.”
Kupu-kupu melebarkan sayapnya tepat di depan bebungaan di mana kami duduk. Ia pun melebarkan jangkauan tangannya di mana tangan saya sedang diam merunduk. Mencoba meredam tawa saya yang sudah terdengar seperti orang mabuk. Tenang gerakannya sangat saya tahu sebenarnya memendam rasa amuk. Karena itu segera saya kibaskan tangan itu berpura-pura menghalau nyamuk.
”Kamu…”
”Hah?!”
Saya memotong kalimatnya. Persis seperti apa yang dilakukan badut-badut ketika berada di atas arena. Berteriak ketika ada yang mengolok-oloknya. Terjatuh. Mengaduh. Berlari. Tanpa berani memaki. Menghilang ke balik panggung. Disertai dengan sorak-sorai dan tawa menggunung.
Sorak-sorai itu yang mengingatkan saya atas kutipan-kutipan yang disebutkan ia dari nama-nama pemikir. Membuat saya mencibir. Karena ada letupan kembang api di kepalanya. Dan warna-warni serpihan kembang api itu jatuh ke bahunya. Ia tidak pernah mengetahuinya. Maka, ia tak merasakannya. Ketika serpihan kembang api itu melumatnya. Bahkan ketika ia berkata,
”Kenapa perlu dipertanyakan, Sayang. Kita sedang berlabuh ke sebuah ketidak-tahuan yang memabukkan.”
Tapi di manakah sekarang ia?
”Hah?!”
Terkejut saya ketika bahu ditepuk seseorang.
”Boleh saya ambil bangku yang tak terpakai?”
”Hah?!”
Saya tidak bisa menentukan. Saya sudah menunggu dua jam dengan perut kram akibat pengguguran. Namun ia tak juga datang. Tapi apakah saya harus menyerahkan bangku kosong di sebelah saya ke seseorang? Seseorang yang membutuhkan bangku tambahan di mejanya karena ia bersama banyak teman tak terkecuali perempuan?
”Boleh saya pakai bangkunya, Mbak?”
Saya menatapnya.
”Maaf, ada yang saya tunggu.”
”Waktu?”
Waktu menunjuk pukul tujuh.

Di Bawah Bulan Separuh

Diposting oleh vhee cubby di 05.55 0 komentar
Cerpen Maya Wulan

INI perjalanan pertamaku menjejakkan kaki ke kotamu, kampung kelahiranmu. Tak pernah terbayangkan sebelum ini, aku bisa sampai ke kotamu. Pulau Sumatera sungguh tak pernah masuk dalam peta anganku.

Tetapi, sebulan lalu, tiba-tiba --seperti mimpi-- aku bisa menyeberangi laut dan Selat Sunda. Mimpikah aku? Kau meyakinkan aku, kalau aku dalam dunia nyata. Kau cubit lenganku, kau sentuh pipiku. Terasa kan? Aku mengangguk. Berarti aku memang tidak bermimpi.

Kapal cepat yang menyeberangkan aku dari Dermaga Merak ke Pelabuhan Bakauhuni telah menjadikan nyata bagiku bisa sampai ke kota kelahiranmu. Di sini, pertama sekali yang kucicipi adalah buah durian. Menurutmu buah berkulit duri tajam ini adalah makanan yang nikmat, bisa dibuat apa saja. Bisa dimakan langsung, diawetkan hingga menjadi nama lain yaitu tempoyak, dodol durian. "Atau bisa kita campur sambal untuk lauk makan nasi. Makanmu bisa bergairah, tiga piring tanpa kau sadari bisa masuk ke mulutmu," katamu.

Wow! Aku pun ingin membuktikannya. Lalu kau ajak aku ke Kafe Yayang di Jalan Cut Nyak Dhien Kota Bandar Lampung. Aku menyantap banyak tempoyak yang telah dicampur sambal terasi (kau menyebut sambal khas kampung kelahiranmu ini adalah seruit). Rasanya pedas sekali. Tetapi aku suka. Keringat membasahi wajahku, terutama di bagian kening dan kedua bibirku.

"Kau makan sampai luah iting1," katamu. Aku tersenyum. Tak mengerti maksud bahasamu.

Aku hendak menghentikan makanku, tapi kau terus menyodorkan makanan lainnya. Kau bilang yang terhidang di meja ini semua makanan khas di sini. "Kau bisa mencicipi sekadar, kalau kau sudah kenyang. Kapan lagi kau bisa ke kota ini kalau kau tak mencicipinya sekarang?"

Kau benar. Aku mencicipi semua hidangan yang tersedia. Meski cuma secuil, sekadarnya. Aku jadi ingin berlama-lama tinggal di kotamu. Aku ingin memetik durian langsung dari pohonnya. Kau tahu, tiba-tiba aku mencintai kotamu, seperti aku mencintaimu. Ah, benarkah aku mencintaimu? Kupikir begitu. Meski tak sebesar cintamu padaku.

Cuma, sudah tiga hari di sini aku belum mendengar orang berbicara dengan bahasa ibunya. Tapi dengan bahasa nasional. Aku jadi heran. Kau pun menjelaskan, "Inilah demokratisnya orang Lampung, meski akhirnya bahasanya sendiri seperti tersingkir."

Dan, katamu lagi, "Kami tak pernah terusik. Malah banyak orang asli yang pandai berbahasa etnis lain. Inilah kekuatan kami, terbuka bagi pluralisme," katamu. Aku mengangguk. Tersenyum. Tiba-tiba aku merasa ingin kau gandeng saat menuruni Kafe Diggers, malam ini.

Aku akan menetap di sini selama 3 bulan. Sebagai mahasiswa semester akhir, aku mengambil tugas PKL (Praktik Kerja Lapangan). Aku sengaja memilih PKL di daerahmu agar aku bisa selalu bersama-sama denganmu. Selain itu, katamu sebelum aku mengambil pilihan lokasi PKL, aku bisa mengenal lebih dekat keluargamu secara langsung. Itu kau katakan di suratmu sebelum aku berangkat ke kotamu.

Kalau saja kau melihatku waktu itu, aku hanya mengerutkan keningku seraya berkata dalam hati: Benarkah itu? Benarkah aku telah memilihmu sebagai calon pendamping hidupku? Setahuku aku hanya ingin bisa berduaan denganmu. Itu saja.

"Aku ingin mengenalkanmu pada keluargaku. Terutama orang tuaku dan adik-adikku. Mereka pasti senang menerimamu. Kau gadis Jawa, ayu dan cantik!" pujimu. Aku tersipu. Kurapatkan bibirmu dengan telapak tanganku. Supaya kau tak mengumbar pujian (mungkin rayuan?) untukku.

***
AKU mengira kotamu masih belantara. Masih banyak binatang buas. Menyeramkan. Penjahat beringas. Kenyataannya, kotamu nyaris sama dengan kota-kota lain di negeri ini yang telah maju. Pembangunan sangat pesat. Di sini ada pula swalayan, supermarket, dan bangunan lainnya yang mencerminkan kota maju.

Orang tuaku, terutama ibuku, sempat ragu dengan keputusanku memilih lokasi PKL di kotamu. Ia khawatir aku akan terlantar di kampung halaman orang. Tak bisa lelap karena risau diganggu binatang buas. Itu juga yang membuatmu agak kecewa. Aku memang pernah berkata, "Kalau kau hanya menunjukkan pembangunan yang pesat di daerahmu, sudah tak asing dan khas lagi." Aku setengah protes, tapi setengahnya lagi aku hendak bertahan.

Bagaimanapun kota kelahiranmu memang mengasyikkan. Aku merasakan warganya selalu akur-akur saja, damai-damai saja. Buktinya di sini tak pernah terjadi kerusuhan yang mencapai genting hingga membahayakan keutuhan.

Benarkah itu? Aku masih belum yakin. Berbagai etnis ada di daerah ini, bagaimana mungkin bisa hidup tanpa pernah terjadi pergesekan? Tetapi, sudahlah, aku tak sedang mempersoalkan sosiologi di kampung kelahiranmu.

Sebelum memulai tugas PKL di Desa Bakung2, kau sempat mengajakku mengunjungi Taman Nasional Bukit Barisan di Bengkunat3 yang menawan. Dan jika dikelola, tentunya bisa mendatangkan devisa bagi pemerintah. Aku sempat ketakutan kala warga Bakung melakukan protes soal tanah ulayat dengan perusahaan pabrik gula. Protes itu berkembang menjadi pertikaian. Ada yang tewas dalam insiden itu. Wajar bila warga Bakung protes, karena ganti rugi tanah ulayat mereka yang digunakan ladang tebu oleh pabrik gula milik keluarga Cendana, sungguh tak wajar. Hanya saja dulu mereka tak berani.

Kasus tanah ulayat Bakung itu menarik. Kau memberi banyak informasi dan data tentang itu. "Kau bisa membuat penelitian tentang kasus tanah di situ. Menarik, sangat menarik." Aku tertarik. Kemudian setiap malam aku banyak mengobrol, diskusi, dan masuk ke dalam denyut napas orang-orang Bakung. Kau selalu setia menemaniku.

Aku suka tinggal di rumah orang tuamu daripada di rumah yang disediakan Pak Camat Ari Zamzari selama masa PKL. Rumah tinggalmu terkesan khas: rumah panggung. Suatu hal baru yang tak kujumpai di tanah Jawa. Seluruh penyangga rumahmu terbuat dari kayu. Kayu dari batang yang kuat dan tahan lama. Katamu sudah hampir 70 tahun. Rumah khas seperti itu kini banyak disukai orang-orang berduit dari kota.

Aku jadi ingin menetap di sini kelak. Setelah kau menyunting aku, tentunya. Tetapi, mungkinkah itu? Menurut adatmu, anak tertua sebagai penyimbang, harus menikah dengan gadis asli daerahmu. Kau menyebutnya muli.4 Dengan begitu kau bisa mendapatkan warisan. Anak-anakmu akan mendapatkan gelar dan diperkenankan cakak pepadun.5

Aku yang bukan gadis asli daerah ini bagaimana mungkin bisa mendampingimu? Aku sempat ragu juga. Meski orang tuamu, keluargamu, tampak baik-baik saja denganku. Keluargamu sangat menerima kehadiranku. Itulah yang membuatku betah selama PKL. Namun, diam-diam aku juga bertanya pada diriku sendiri. Sungguhkah aku ingin menikah denganmu? Jangan-jangan tidak. Jangan-jangan aku salah menafsirkan perasaanku padamu. Dan pikiranmu tentangku selama ini keliru. Entahlah. Aku takut dengan rahasia yang kusimpan sendiri. Aku merasa memiliki cinta untukmu. Tapi seberapakah? Dan berhakkah aku?

***
MALAM di Rawa Jitu, aku sempat gemetar. Tulang-tulang persendianku seperti hendak copot. Benar-benar aku dicekam ketakutan. Waktu itu kau tak menemaniku. Kau mendapat tugas mendampingi klienmu di Menggala, ibu kota Tulangbawang.

Bagaimana aku tidak ketakutan. Bahkan aku nyaris mati berdiri. Sekawanan gajah menyerbu perkampungan. Warga menghidupi puluhan obor, tapi kawanan gajah itu tak juga kembali ke belantara. Bahkan parit dengan kedalaman 1,5 meter yang dibuat warga sebagai benteng, bisa dengan mudah dilewati para gajah itu. Kawanan hewan tambun berbelalai panjang itu menggasak rumah-rumah warga. Memorak-porandakan isi rumah, merusak perkebunan warga. Mencabuti ladang singkong dan tebu.

Kami dicekam ketakutan. Kentongan dari kayu tak henti dipukuli. Biar riuh. Agar gajah-gajah itu masuk kembali ke habitatnya. Sayangnya itu sia-sia. Seorang ibu dan dua anak-anak diremukkan dengan belalainya sebelum dilempar ke semak. Mati. Ya, malam itu tiga warga di situ tewas. Pertempuran tak sebanding. Pikirku. Aku benar-benar takut. Gigil. Tiba-tiba aku teringat pada ibuku di Jawa. Apakah ia merasakan apa yang kualami sekarang? Sebuah rasa ketakutan yang sempurna. Aku menyelamatkan diri ke kampung sebelah. Dievakuasi ke daerah lain. Tak hendak lagi menetap di rumah yang disediakan camat. Aku memilih tinggal di rumahmu, bersamamu. Sampai masa PKL-ku selesai.

"Bukankah ini yang kau inginkan?" kau berbisik. Bulan separuh di langit. Kita duduk di bawah pohon jambu dekat rumahmu. Agak temaram. Aku menikmati tanganmu membelai rambutku. Kau masih seperti waktu di kampus dulu. Amat sayang dan memperhatikan aku.

"Sudah berapa lama kita tak seperti ini, ya?"

Kau memandangku sejenak. Kau tak menjawab. Rasanya memang pertanyaanku itu tak memerlukan jawaban. Memang kau lebih dulu selesai. Kau cerdas. Apalagi kau selalu mengambil kuliah pintas, semester pendek. "Aku ingin segera menyelesaikan kuliah. Kasihan orang tuaku di kampung, aku ingin mengabdi pada mereka," katamu. Kau pun berjanji akan tetap bersamaku, akan selalu mencintaiku. "Aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anakku…"

Aku percaya. Itu bukan rayuanmu. Kau pun segera bekerja, sebagai pegawai negeri di instansi Departemen Kehakiman. Kau ditempatkan di kantor kejaksaan di kotamu. Surat-suratmu tetap mengalir kuterima. Tapi aku juga tetap membawa rahasia diriku. Tentang cintaku padamu. Yang aku sendiri tak begitu mengerti. Dan kau tak pernah tahu.

"Aku mengagumi ketegasanmu, kekonsistenanmu," aku memuji. Kau hanya tersenyum. Aku getir. Entah kenapa. Merasa bersalahkah? Atau aku mulai bermain lidah? Membohongimu dengan kata-kataku.

Kalau saja tidak karena urusan kuliah dan aku harus segera ujian akhir, mungkin aku akan berlama-lama lagi menetap di kampung kelahiranmu. Aku sudah telanjur jatuh hati dengan kampungmu, dengan keterbukaan warganya, dan keramahan keluargamu. "Terutama denganmu, sayang…" kataku. Tapi bagaimanapun, aku harus pulang. Kembali ke Jawa. Kembali berpisah denganmu. Dengan sebuah rahasia dalam diriku. Tentang cintaku. Diriku.

***
AKU telah mendapat gelar kesarjanaanku. Kau tak datang saat wisudaku karena pekerjaanmu mengharuskan kau tetap ada di kotamu. Aku maklum. Atau….Entahlah. Aku maklum atau justru tak terlalu peduli. Saat itu, di gedung auditorium kampusku, seorang lelaki lain berdiri di sampingku. Ya. Dialah yang mendampingiku selama acara wisudaku berlangsung. Dan, kau tak tahu itu.

Kini aku masih menganggur. Aku tak secerdas kau. Aku harus mencari pekerjaan dengan sekian peluhku. Tak seperti dirimu yang justru dicari-cari pekerjaan. Banyak perusahaan menunggu dan menawarimu pekerjaan bahkan sebelum kau lulus dari universitas.

Bulan demi bulan berjalan dengan cepat. Surat-suratmu masih menyapaku, meskipun semakin jarang saja. Aku tahu kenapa begitu. Bukan karena kau tak mencintaiku lagi, tapi barangkali kau lelah dan bingung. Kau pernah bilang ingin melamarku, tapi ternyata kau harus berhadapan dengan sebuah dinding yang membuatmu begitu dilematis. Keluarga besarmu memang pernah menerimaku dengan baik saat aku di kotamu.

Ya. Mereka menerimaku sebagai tamu mereka. Temanmu. Tapi sesungguhnya, mereka tetap menginginkan kau kelak menikah dengan gadis satu suku denganmu. Berarti bukan aku. Tapi anehnya, aku tak bersedih karena hal itu. Atau berusaha untuk tidak sedih? Atau tidak berani untuk bersedih? Ah. Jika kuingat siapa aku, aku merasa tak berhak untuk bersedih.

Aku mengingat dirimu. Juga surat-suratmu yang kian tak menemuiku di sini. Sedang apakah kau di sana, sayang? Adakah kau mengira aku tengah menangisi nasib cinta kita yang kemungkinan besar tak bisa bersatu? Ah. Tiba-tiba aku ingin sekali memberitahumu yang sebenarnya terjadi padaku di sini.

Aku mencintaimu. Tapi aku tak pernah bisa meyakini diriku sendiri. Aku, sesungguhnya, tak sebaik yang kau kira. Aku bermain di belakangmu. Dengan semua rahasia tentang cintaku. Diriku. Dan kau tak pernah sekali pun tahu. Mungkin, kau tak pernah benar-benar mengenalku. Ataupun kehidupanku. Keluargaku. Terlebih setelah kau menjadi demikian bisu. Jarang menghubungiku.

Keadaan yang mungkin telah membuatmu luka itu, juga surat-suratmu yang hanya sesekali kau kirimkan padaku, malah menjadi alasan untukku menyelamatkan diri darimu. Dengan semua permainanku selama ini di belakangmu. Aduh, sayang, maafkan aku.

Atau aku malah mensyukuri keadaan yang menimpa cinta kita? Mungkinkah aku memang benar-benar mencintaimu? Hanya aku tak berani (malu?) untuk menempuh hidup bersamamu? Aku memang telah tahu keluargamu. Mereka sangat baik, bahkan padaku. Tapi kau sama sekali tidak tahu siapa keluargaku. Iya, kan?

Dan entah kau sadari atau tidak, aku sengaja tak pernah mengajakmu untuk menemui keluargaku. Mengenal ibuku yang menderita sakit sejak aku kembali dari kotamu. Kau pun tak tahu kalau aku tak mempunyai ayah lagi. Sungguh, kau tak mengenalku. Selama ini aku yang kau lihat bukanlah aku yang sebenarnya.

Maka ada rasa senang ketika kutahu keluargamu menolak rencanamu untuk menikahiku. Aku pun tak memrotesmu ketika kau mulai jarang menyuratiku di sini. Mungkin ini yang terbaik untukmu. Karena kau tak tahu aku. Barangkali, kalau kau tahu siapa aku, kau juga akan langsung meninggalkanku begitu saja. Barangkali tak akan pernah ada rencana pernikahan kita di kepalamu.

Aku duduk di sisi kanan ranjang yang menopang tubuh kurus ibuku, di rumah kami yang sempit. Sudah cukup lama ia sakit. Dan sudah begitu banyak obat yang masuk ke perutnya. Tapi ia tak juga beranjak sembuh. Malah sebaliknya. Dadaku sesak. Memikirkan keadaan keluargaku. Ibuku, dan dua adikku yang masih kecil-kecil. Uang yang kumiliki telah terkuras untuk membeli obat-obatan ibuku. Aku beruntung masih bisa menyelesaikan kuliahku.

Aku ingat pada kekasihku di seberang. Semua kenangan indahku bersamanya di kota kelahirannya, masih kuingat dengan sangat rapi. Kini aku tak pernah lagi mendengar kabarnya. Barangkali dia sudah menikah, pikirku. Entahlah. Aku pun ingin menghilang darinya. Saat ini aku harus memfokuskan diriku untuk keluargaku. Agar adik-adikku tidak terlantar. Seperti selama ini akulah tiang keluarga ini. Dan aku berhasil. Bahkan dapat membiayai kuliahku. Meski, cara yang kupilih ini tidak sesuai dengan hatiku sendiri. Tapi, aku terpaksa melakukannya.

Mataku berkaca-kaca. Kesejukan udara pagi berubah menyakitkan bagiku. Suara embun yang menitik di daun kurasakan seperti jarum-jarum yang menusuki dadaku. Aku berusaha menahan rasa sedihku. Di hadapanku, ibuku menghembuskan napasnya yang terakhir. Dua adikku hanya menangis dan menangis. Aku pusing.

Malam menjemputku. Ini malam ke sepuluh setelah kematian ibuku. Kegelapannya seolah berusaha menutupi semua kesedihan yang terlukis di wajahku. Aku masih menganggur. Tapi aku tak mungkin menunggu lebih lama lagi. Aku dan kedua adikku harus melanjutkan hidup kami. Demi mereka, batinku. Maka….

***
AKU telah berdandan rapi. Seperti yang biasa kulakukan selama aku masih kuliah dulu. Kutinggalkan rumah. Ada rasa jengah pada diri sendiri. Tapi kumusnahkan.

Aku kembali pada pekerjaan lamaku. Menjadikan malam-malamku sebagai ajang pertempuran. Pergumulan. Aku membayangkan sekian lembaran uang kertas di tanganku besok pagi.

Seorang lelaki kini tengah menindih tubuhku yang telanjang. Di sebuah hotel, kamar 105…

***
MUNGKIN kau tak akan pernah tahu, atau sama sekali tak mau peduli, tentangku. Aku pun begitu. Tak pernah mengharap, bahkan untuk selembar kabar darimu. Meski kenangan-kenangan semasa aku di kampung kelahiranmu, tak pernah akan pupus.

"Setiap tamu datang dan meminum air sungai ini ia pasti akan kembali. Air sungai ini seperti menghipnotisnya. Sungai Tulangbawang ini kami yakini bertuah," ujarmu. Di bawah bulan separuh. Langit cemerlang. Sungai tua bernama Tulangbawang6 tengah tenang berombak, di kejauhan tampak samar-samar.

Waktu itu aku tak begitu yakin. Itu hanya dongeng. Legenda. Bisa kita lupakan. Ternyata benar. Aku tak akan pernah kembali ke kampung kelahiranmu. Meski kenangan-kenangan itu masih terang di benakku. Juga tentang dirimu. Cinta kita.

Kubiarkan segala kenangan dan cinta kita tetap ada, betapa pun aku telah berpindah-pindah dari lelaki satu ke lelaki yang lain. Masuk hotel dan keluar hotel. Ditiduri. Kota ini akan menyembunyikan diriku. Tak seorang pun tahu. Seperti malam ini, jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 03.15, dengan langkah gontai karena kebanyakan air beralkohol kutinggalkan kamar hotel itu.

Pulang. Ya. Sebelum pagi menjemput. Sebelum bulan separuh di atas kepalaku lesap di peraduannya. Aku masih saja terkenang kampung kelahiranmu yang menyimpan selaksa harapan. Ya, harapan…***

Rabu, 05 Oktober 2011

DERAI DERAI CEMARA

Diposting oleh vhee cubby di 01.19 0 komentar
cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

SAJAK PUTIH

Diposting oleh vhee cubby di 01.17 0 komentar
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah...

PENERIMAAN

Diposting oleh vhee cubby di 01.13 0 komentar
 Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

AKU

Diposting oleh vhee cubby di 01.10 0 komentar
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

PRAJURIT JAGA MALAM

Diposting oleh vhee cubby di 01.09 0 komentar
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

Pages

 

MY DIARY Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting